JANJIMU.COM, – SOPPENG – Maraknya ucapan “Selamat Hari Jadi Kabupaten Soppeng ke-765” setiap bulan Maret kini menuai sorotan dari kalangan pemerhati sejarah. Salah satunya datang dari Agus Iskandar, anggota Tim Studi Banding “Menelusuri Hari Jadi Soppeng” tahun 1995, yang menilai penyebutan tersebut tidak tepat dan berpotensi menyesatkan pemahaman publik.
Menurut Agus, penggunaan istilah “Kabupaten Soppeng” dengan usia ratusan tahun merupakan kekeliruan mendasar. Ia menegaskan bahwa secara administratif, Kabupaten Soppeng baru terbentuk pada tahun 1957 berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1957.
“Kalau merujuk pada dasar hukum, usia kabupaten ini belum sampai satu abad. Jadi, dari mana angka 765 itu berasal jika dilekatkan pada kabupaten?” ujarnya.
Agus menjelaskan, angka 765 tahun sejatinya merujuk pada perjalanan panjang Soppeng sebagai entitas peradaban dan budaya, bukan sebagai struktur pemerintahan modern. Tahun 1261 yang disepakati melalui seminar sejarah menjadi tonggak awal eksistensi Soppeng sebagai wilayah budaya dan identitas masyarakat.
“Yang berusia ratusan tahun itu adalah Soppeng sebagai entitas sejarah dan budaya, bukan Kabupaten Soppeng,” tegasnya.
Ia menilai selama ini terjadi pencampuradukan antara dua entitas berbeda, yakni Soppeng sebagai peradaban dan Kabupaten Soppeng sebagai wilayah administratif. Kekeliruan tersebut, meski terlihat sederhana, dinilai berpotensi menggeser makna sejarah secara perlahan.
“Ini bukan sekadar soal redaksi. Cara kita menyebut sesuatu mencerminkan cara kita memahami. Jika terus diulang, lama-kelamaan orang akan menganggap benar bahwa Kabupaten Soppeng sudah berusia 765 tahun, padahal itu tidak pernah tercatat dalam sejarah,” jelasnya.
Agus juga mengingatkan bahwa distorsi semacam ini dapat masuk ke dalam ingatan kolektif masyarakat dan diwariskan tanpa koreksi kepada generasi muda kedepan.
“Yang berbahaya, generasi setelah kita tidak lagi mempertanyakan. Mereka akan menerima begitu saja sesuatu yang sebenarnya keliru,” tambahnya.
Sebagai Presidium Forum Komunikasi Jurnalis (FKJ) Kabupaten Soppeng, Agus menekankan bahwa momentum hari jadi seharusnya menjadi ruang refleksi untuk memahami sejarah secara utuh, bukan justru mengaburkannya.
“Hari jadi itu momentum untuk kembali ke akar sejarah, bukan mencampuradukkan antara peradaban dengan struktur administratif,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, agar lebih cermat dalam penggunaan istilah. Menurutnya, ucapan yang lebih tepat adalah “Selamat Hari Jadi Soppeng ke-765”, tanpa menambahkan kata “Kabupaten”.
“Kalimat itu lebih sederhana, tapi jauh lebih jujur dan menghormati sejarah,” pungkasnya.






