JANJIMU.COM, – WAJO – Warga Lingkungan Cappapadang, Kelurahan Doping, Kecamatan Penrang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, digegerkan dengan penemuan seorang pria berinisial MYS (27) yang ditemukan tewas dalam kondisi tergantung di samping rumah keluarganya, Senin (23/2/2026) sekitar pukul 06.00 Wita.
Korban yang diketahui berstatus wiraswasta itu pertama kali ditemukan oleh saksi AS (44), seorang petani yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian.
Menurut keterangan saksi, peristiwa itu diketahui saat dirinya turun dari rumah pada pagi hari dan melihat korban sudah dalam posisi tergantung di balok langit-langit samping rumah kakaknya, menggunakan sarung yang terikat dengan lilitan kain di leher.
“Saya baru turun rumah pagi hari, lalu melihat korban sudah tergantung di situ,” ujar AS kepada petugas.
Saksi kemudian segera menghubungi HAE (70) serta memberi tahu pihak keluarga korban. Suasana duka langsung menyelimuti lokasi kejadian, sementara warga sekitar berdatangan setelah kabar tersebut menyebar.
Personel dari Polsek Penrang bergerak cepat mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) setelah menerima laporan warga. Aparat langsung melakukan olah TKP, memasang garis polisi, serta berkoordinasi dengan tenaga medis dan pemerintah setempat untuk penanganan lebih lanjut.
Kapolsek Penrang menyampaikan bahwa dari hasil analisa awal, korban diduga mengalami depresi dan stres akibat tekanan ekonomi yang tengah dihadapinya. Namun demikian, pemeriksaan medis masih terus dilakukan guna memastikan penyebab pasti kematian.
“Kami telah mengamankan lokasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait sambil menunggu hasil pemeriksaan,” ujarnya.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi psikologis anggota keluarga, terutama saat menghadapi tekanan hidup maupun persoalan ekonomi.
Dukungan moral dan perhatian dari lingkungan sekitar dinilai sangat penting untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa masalah kesehatan mental bukan hal sepele. Kepedulian, komunikasi terbuka, dan saling menguatkan di tengah keluarga dan masyarakat menjadi kunci agar tragedi serupa tidak kembali terulang.






