JANJIMU.COM, – SOPPENG – Suasana di pagi di Warkop CaMiDu tampak sedikit berbeda dari biasanya. Aroma kopi yang mengepul hangat berpadu dengan obrolan ringan yang sesekali diselingi tawa para pengunjung. Namun, di balik santainya suasana, terselip satu topik yang cukup “serius tapi santai”: kecintaan warga Botto kepada lurah mereka, H. Munadir Nurdin.
Diskusi berbagai kalangan mulai dari masyarakat umum, pelanggan setia warkop CaMiDu, hingga kerabat dekat pak lurah. Menariknya, Salah seorang pengunjung dengan nada setengah bercanda menyebut, “Kalau Pak Lurah lama tidak kelihatan di kota, suasana Botto rasanya seperti kopi tanpa gula, ” Pernyataan itu langsung disambut tawa.
Tak hanya dikenal ramah, H. Munadir dinilai warga sebagai sosok yang mudah dijangkau baik di kantor maupun di meja warkop. Bagi sebagian warga, kehadiran beliau di Warkop CaMiDu bukan sekadar ngopi, melainkan juga melayani warganya.
“Di sinilah aspirasi dan masukan masyarakat yang sesungguhnya,” ungkap salah satu pengunjung.
Dalam obrolan tersebut, warga berharap agar lurah Botto tetap berada di kota, khususnya di ruang-ruang santai seperti Warkop CaMiDu.
Ini merupakan sebagai bukti nyata cinta warga Botto kepada lurahnya bukan sekadar basa-basi, melainkan sudah seperti langganan tetap tidak pernah putus, apalagi pindah ke warkop sebelah.













